Mengubah "Aghuta" Menjadi Harmoni: Hadrah Sebagai Wadah Bakat Terpendam di SD SAInS JATIM
Situbondo, Juni 2025 – (Permadani SAInS) Suara riuh rendah pukulan di meja dan bangku kelas, sebuah fenomena yang akrab di telinga para guru dan kerap disebut sebagai aghutha, kini telah bertransformasi menjadi alunan musik yang merdu dan syahdu di SD SAInS JATIM. Sekolah ini berhasil memfasilitasi kegemaran siswa yang berpotensi negatif menjadi sebuah kegiatan positif yang membanggakan melalui pengadaan ekstrakurikuler musik hadrah atau samroh.
Pada bulan Mei lalu, pihak sekolah secara khusus mendatangkan satu set alat musik hadrah baru. Pembelian ini bukan tanpa alasan. Pihak sekolah, terutama bidang kesiswaan, melihat banyak siswa yang memiliki kecenderungan alamiah untuk mengetuk atau memukul-mukul meja sebagai penyaluran ekspresi dan energi mereka. Fenomena yang seringkali dipandang sebagai gangguan ini, kini dilihat sebagai sebuah potensi bakat yang perlu diwadahi.
Benar saja, antusiasme siswa meledak begitu alat-alat musik hadrah tersebut tiba di sekolah. Tanpa perlu waktu lama untuk beradaptasi, para siswa yang sebelumnya hanya bisa "bermain musik" dengan perabotan kelas, kini dengan lincah dan cepat akrab dengan rebana, bass, dan dumbuk. Bahkan, mereka mampu mengikuti irama lagu sederhana yang diperdengarkan dengan penuh semangat.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Kak Krisna, menyatakan dukungannya yang sangat besar terhadap inisiatif ini. "Hobi siswa yang sebenarnya positif, yaitu menyukai ritme dan ketukan, seringkali menjadi negatif karena merusak fasilitas sekolah seperti bangku dan meja. Sekarang, dengan adanya hadrah, energi dan kegemaran mereka yang kami sebut sebagai aghutha itu bisa tersalurkan menjadi alunan musik yang lebih merdu dan terarah," ujarnya.
Dari antusiasme tersebut, terbentuklah sebuah tim hadrah inti yang terdiri dari sembilan siswa berbakat. Mereka secara rutin berlatih di bulan Juni ini, mempersiapkan diri untuk berbagai kegiatan sekolah. Musik hadrah yang kental dengan nuansa Islami dan irama yang membangkitkan semangat ini dinilai sangat cocok untuk pengembangan karakter dan kreativitas siswa.
Lebih dari sekadar wadah penyaluran bakat, program ini juga menjunjung tinggi nilai inklusivitas. Bagi siswa lain yang memiliki minat namun tidak terpilih menjadi tim inti, pihak sekolah memberikan kesempatan emas. Mereka diperbolehkan untuk mencoba dan menabuh alat-alat hadrah tersebut setelah sesi latihan usai. Hal ini bertujuan agar semua siswa yang memiliki percikan minat terhadap seni musik perkusi dapat merasakannya.
Inovasi yang dilakukan oleh SD SAInS JATIM ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah "kenakalan" siswa dapat ditransformasikan menjadi prestasi. Dengan memberikan fasilitas dan arahan yang tepat, potensi terpendam dalam diri setiap anak dapat berkembang menjadi sebuah harmoni yang tidak hanya indah didengar, tetapi juga positif bagi lingkungan belajar-mengajar. Program hadrah ini diharapkan dapat terus berkembang dan melahirkan bibit-bibit baru di bidang seni musik religi, sekaligus membuktikan bahwa setiap perilaku siswa memiliki potensi positif yang menunggu untuk ditemukan dan diasah. (PerSA)
Situbondo, Juni 2025 – (Permadani SAInS) Suara riuh rendah pukulan di meja dan bangku kelas, sebuah fenomena yang akrab di telinga para guru dan kerap disebut sebagai aghutha, kini telah bertransformasi menjadi alunan musik yang merdu dan syahdu di SD SAInS JATIM. Sekolah ini berhasil memfasilitasi kegemaran siswa yang berpotensi negatif menjadi sebuah kegiatan positif yang membanggakan melalui pengadaan ekstrakurikuler musik hadrah atau samroh.
Pada bulan Mei lalu, pihak sekolah secara khusus mendatangkan satu set alat musik hadrah baru. Pembelian ini bukan tanpa alasan. Pihak sekolah, terutama bidang kesiswaan, melihat banyak siswa yang memiliki kecenderungan alamiah untuk mengetuk atau memukul-mukul meja sebagai penyaluran ekspresi dan energi mereka. Fenomena yang seringkali dipandang sebagai gangguan ini, kini dilihat sebagai sebuah potensi bakat yang perlu diwadahi.
Benar saja, antusiasme siswa meledak begitu alat-alat musik hadrah tersebut tiba di sekolah. Tanpa perlu waktu lama untuk beradaptasi, para siswa yang sebelumnya hanya bisa "bermain musik" dengan perabotan kelas, kini dengan lincah dan cepat akrab dengan rebana, bass, dan dumbuk. Bahkan, mereka mampu mengikuti irama lagu sederhana yang diperdengarkan dengan penuh semangat.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Kak Krisna, menyatakan dukungannya yang sangat besar terhadap inisiatif ini. "Hobi siswa yang sebenarnya positif, yaitu menyukai ritme dan ketukan, seringkali menjadi negatif karena merusak fasilitas sekolah seperti bangku dan meja. Sekarang, dengan adanya hadrah, energi dan kegemaran mereka yang kami sebut sebagai aghutha itu bisa tersalurkan menjadi alunan musik yang lebih merdu dan terarah," ujarnya.
Dari antusiasme tersebut, terbentuklah sebuah tim hadrah inti yang terdiri dari sembilan siswa berbakat. Mereka secara rutin berlatih di bulan Juni ini, mempersiapkan diri untuk berbagai kegiatan sekolah. Musik hadrah yang kental dengan nuansa Islami dan irama yang membangkitkan semangat ini dinilai sangat cocok untuk pengembangan karakter dan kreativitas siswa.
Lebih dari sekadar wadah penyaluran bakat, program ini juga menjunjung tinggi nilai inklusivitas. Bagi siswa lain yang memiliki minat namun tidak terpilih menjadi tim inti, pihak sekolah memberikan kesempatan emas. Mereka diperbolehkan untuk mencoba dan menabuh alat-alat hadrah tersebut setelah sesi latihan usai. Hal ini bertujuan agar semua siswa yang memiliki percikan minat terhadap seni musik perkusi dapat merasakannya.
Inovasi yang dilakukan oleh SD SAInS JATIM ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah "kenakalan" siswa dapat ditransformasikan menjadi prestasi. Dengan memberikan fasilitas dan arahan yang tepat, potensi terpendam dalam diri setiap anak dapat berkembang menjadi sebuah harmoni yang tidak hanya indah didengar, tetapi juga positif bagi lingkungan belajar-mengajar. Program hadrah ini diharapkan dapat terus berkembang dan melahirkan bibit-bibit baru di bidang seni musik religi, sekaligus membuktikan bahwa setiap perilaku siswa memiliki potensi positif yang menunggu untuk ditemukan dan diasah. (PerSA)
Situbondo, Juni 2025 – (Permadani SAInS) Suara riuh rendah pukulan di meja dan bangku kelas, sebuah fenomena yang akrab di telinga para guru dan kerap disebut sebagai aghutha, kini telah bertransformasi menjadi alunan musik yang merdu dan syahdu di SD SAInS JATIM. Sekolah ini berhasil memfasilitasi kegemaran siswa yang berpotensi negatif menjadi sebuah kegiatan positif yang membanggakan melalui pengadaan ekstrakurikuler musik hadrah atau samroh.
Pada bulan Mei lalu, pihak sekolah secara khusus mendatangkan satu set alat musik hadrah baru. Pembelian ini bukan tanpa alasan. Pihak sekolah, terutama bidang kesiswaan, melihat banyak siswa yang memiliki kecenderungan alamiah untuk mengetuk atau memukul-mukul meja sebagai penyaluran ekspresi dan energi mereka. Fenomena yang seringkali dipandang sebagai gangguan ini, kini dilihat sebagai sebuah potensi bakat yang perlu diwadahi.
Benar saja, antusiasme siswa meledak begitu alat-alat musik hadrah tersebut tiba di sekolah. Tanpa perlu waktu lama untuk beradaptasi, para siswa yang sebelumnya hanya bisa "bermain musik" dengan perabotan kelas, kini dengan lincah dan cepat akrab dengan rebana, bass, dan dumbuk. Bahkan, mereka mampu mengikuti irama lagu sederhana yang diperdengarkan dengan penuh semangat.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Kak Krisna, menyatakan dukungannya yang sangat besar terhadap inisiatif ini. "Hobi siswa yang sebenarnya positif, yaitu menyukai ritme dan ketukan, seringkali menjadi negatif karena merusak fasilitas sekolah seperti bangku dan meja. Sekarang, dengan adanya hadrah, energi dan kegemaran mereka yang kami sebut sebagai aghutha itu bisa tersalurkan menjadi alunan musik yang lebih merdu dan terarah," ujarnya.
Dari antusiasme tersebut, terbentuklah sebuah tim hadrah inti yang terdiri dari sembilan siswa berbakat. Mereka secara rutin berlatih di bulan Juni ini, mempersiapkan diri untuk berbagai kegiatan sekolah. Musik hadrah yang kental dengan nuansa Islami dan irama yang membangkitkan semangat ini dinilai sangat cocok untuk pengembangan karakter dan kreativitas siswa.
Lebih dari sekadar wadah penyaluran bakat, program ini juga menjunjung tinggi nilai inklusivitas. Bagi siswa lain yang memiliki minat namun tidak terpilih menjadi tim inti, pihak sekolah memberikan kesempatan emas. Mereka diperbolehkan untuk mencoba dan menabuh alat-alat hadrah tersebut setelah sesi latihan usai. Hal ini bertujuan agar semua siswa yang memiliki percikan minat terhadap seni musik perkusi dapat merasakannya.
Inovasi yang dilakukan oleh SD SAInS JATIM ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah "kenakalan" siswa dapat ditransformasikan menjadi prestasi. Dengan memberikan fasilitas dan arahan yang tepat, potensi terpendam dalam diri setiap anak dapat berkembang menjadi sebuah harmoni yang tidak hanya indah didengar, tetapi juga positif bagi lingkungan belajar-mengajar. Program hadrah ini diharapkan dapat terus berkembang dan melahirkan bibit-bibit baru di bidang seni musik religi, sekaligus membuktikan bahwa setiap perilaku siswa memiliki potensi positif yang menunggu untuk ditemukan dan diasah. (PerSA)